Kisah seorang teman
June 9, 2008 at 10:21 am | In 1 | No CommentsKisahku ini berawal ketika aku duduk di kelas 1 SMA di salah satu SMA favorit di Jakarta Selatan. Sebelumnya ingin kuperkenalkan diriku. Namaku Muhammad Fara, usiaku saat ini menginjak tiga puluh lima tahun, saat ini aku telah bekerja di kantor pemerintah sebagai pegawai negeri sipil. Gajiku lumayan besar, karena aku lulusan S3 dari Universitas terkenal di negeri ini. Ke luar negeri bukanlah hal yang luar biasa bagiku, karena hampir dua kali setiap bulan aku melakukannya.
Kira-kira dua puluh tahun yang lalu, ketika pertama kali ku injakkan kakiku di sekolah yang baru, bertemu dengan teman-teman baru, lingkungan yang semuanya serba baru. Maklum ketika itu aku masih lima belas tahun, terlalu muda rasanya untuk anak usia tersebut duduk di bangku kelas 1 SMA. Nilai di ijazahku rata-rata 9, NEM ku pun semuanya diatas 8,5. Boleh dibilang cukup berprestasi saat itu. Sehingga aku diterima di sekolah tersebut.
Saat pertama kali masuk sekolah, seperti biasa diadakan upacara penyambutan siswa baru. Saat itu aku bertemu seorang siswa baru juga yang sampai saat ini menjadi sahabat karibku, Nugroho namanya. Saat ini ia telah memiliki 3 orang anak yang lucu-lucu dan cerdas.
Hari-hari pertamaku di sekolah diisi dengan hal-hal yang memang biasa terjadi di sekolah. Belajar, diskusi, cerita, nongkrong di kantin, ngadu bola, sampai tawuran sudah pernah kurasakan. Bahkan pernah seorang teman membawa granat aktif ke sekolah, untuk digunakan saat tawuran nanti, dahsyat bukan?
Namun ada satu hal yang sampai saat ini selalu kupikirkan. Kenapa saat itu aku tidak menjalani kegiatan yang paling digemari oleh para pelajar, bahkan hingga saat ini pun masih menjadi primadona alur cerita di sinetron dalam negeri. PACARAN, ya pacaran. Kenapa ketika sekolah dahulu aku tidak menyempatkan diri untuk pacaran, untuk sekedar merasakan indahnya masa-masa SMA dengan seseorang yang istimewa di sampingku. Yang selalu menanyakan kesehatanku, yang selalu memperhatikanku, yang selalu menghubungiku tak kenal waktu, yang selalu meminta diantar kesana-kemari, yang mengerjakan PR-ku, yang memberikan bocoran soal ujian harian dan mingguan, yang senantiasa mengingat akan diriku dari fajar hingga bertemu fajar ke esokan harinya.
***
Tak terasa satu tahun sudah kulalui di sekolah ini. Tahun pertamaku kuhabiskan untuk bermain sepuasnya dengan teman-teman baruku. Namun ada satu hal yang tetap ku pertahankan. Nilai rapot ku selalu rata-rata 8. Rangkingku pun selalu 3 besar. Bahkan aku berhasil mencetak “hattrick” dengan mendapat rangking 2 berturut-turut selama di kelas 1.
Masuk di kelas 2 SMA, aku diperkenalkan dengan organisasi sekolah, Rohis namanya. Nugroho pun ku ajak bergabung di dalamnya. Entah angin apa yang membawa kami “terjerumus” masuk kesana. Rasanya tidak ada hal yang istimewa pada awalnya. Organisasi ini terlihat lebih ringan dibandingkan yang lain. Tidak ada formulir, tidak ada biaya pendaftaran, tidak ada iuran bulanan, kegiatannya pun tidak membuat kami bermandikan keringat. Bahkan yang paling menyenangkan bagi kami saat itu adalah, kegiatan ini paling banter berkutat di musholla sekolah, banyak makanan dan minumannya, plus gratis dan kakak-kakak perempuannya cantik-cantik, bahkan cenderung terlihat anggun dengan jilbab panjang yang mereka kenakan. Walaupun jujur saat itu aku agak heran kenapa mereka mau mengenakan jilbab sepanjang itu.
Berbagai macam kegiatan diperkenalkan kepadaku. Mulai dari peringatan Isra’ Mi’raj, Pesantren Kilat, Bakti Sosial, Bedah Buku, Bagi-bagi Sembako gratis, Ceramah umum, Kajian Tematik, Pemutaran Film, sampai jalan-jalan ke puncak. Ketika itu jalan-jalan ke puncak rasanya sudah jauh sekali. dan yang perlu di catat semuanya gratis, kalau pun diminta untuk membayar paling besar lima belas ribu rupiah. Bayangkan, lima belas ribu untuk jalan-jalan ke puncak selama tiga hari dua malam. Memang sih sebagian besar kegiatan bersifat rohani, namanya saja sudah Rohani Islam (kepanjangan dari Rohis). Namun dijamin tidak membosankan.
Tiba saat pergantian kepengurusan, aku dan Nugroho dicalonkan sebagai ketua. Masyaallah aku bisa apa saat itu. Bicara di depan umum saja aku gemetaran, keringat mengucur deras, kata-kata ku pun tersusun layaknya benang kusut. Sedikitpun kriteria pemimpin tidak ada padaku, kecuali satu, egocentris. Ya aku memang terkenal egois dan mau menang sendiri. Dan katanya pada saat-saat tertentu seorang pemimpin memang harus egois. Singkat cerita terpilihlah aku sebagai Ketua Rohis yang baru dan Nugroho sebagai wakilnya.
Hari-hari ku sebagai “pejabat tinggi” tidak seindah pejabat di gedung MPR/DPR, mereka dibayar mahal untuk pekerjaannya, sementara aku, uang transport saja tidak dapat. Perbedaan pendapat, debat kusir, air mata, sampai lempar kursi dan membanting pintu menjadi makanan sehari-hari.
Sepulang sekolah aku tidak pernah langsung pulang ke rumah, pasti ada saja agenda rapat. Dan biasanya rapat baru berakhir menjelang adzan maghrib, itupun rapat di pending hingga besok siang. Ada saja masalah baru yang kuhadapi setiap harinya. Mulai dari masalah internal kepengurusanku hingga fitnah-fitnah keji yang menerpa. Pernah suatu ketika aku di fitnah mengikuti aliran sesat karena setiap rapat ku bentangkan kain lebar dan panjang agar terpisah antara pengurus lelaki dan perempuan. Pernah pula aku di bilang homoseksual, karena setiap bertemu saudaraku yang lelaki selalu kucium pipi kiri dan kanannya, dan aku sangat enggan berhubungan dengan perempuan, bahkan cenderung menjauhi jenis mahluk yang satu ini.
Masih tergiang di telinga, bagaimana ketika itu guru spiritual ku mengatakan, “Jadilah pecinta sejati, yang tidak akan bermain-main dengan cintanya, yang tulus cintanya, yang menjauhi zina, karena Allah SWT memerintahkan kepada kita dalam firmannya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.(QS. Al-Isra:32). ” Jadilah pembaca buku sejati yang tidak akan membuka dan merusak sampul buku yang dipajang di toko-toko buku. Karena seorang pembaca sejati akan sampai tuntas membaca buku, bukan hanya merusak dan melihat sejenak kemudian di taruh, tidak jadi dibeli.” Buku yang tersampul merupakan perumpamaan untuk perempuan yang terjaga diri dan kehormatannya. Sementara pembaca sejati adalah perumpamaan pria sejati yang hendak meminang seorang wanita. Ia tidak ingin bermain-main dengan pilihannya, tidak akan menikmati sebelum saatnya dan merusak pilihannya. Kalimat itu menjadi kalimat pamungkas saat hatiku terasa mulai di-infiltrasi oleh “virus-virus merah jambu”
Sampai terjadilah peristiwa yang hingga saat ini menjadi bunga-bunga indah di dalam file memory hardisk-ku. Hari itu aku dipanggil dengan sepucuk surat agar datang ke perpustakaan sepulangnya dari sekolah. Tidak tercantum siapa pengirimnya. Hanya tertulis tebal kata “PENTING” di akhir surat. Ku pikir paling-paling undangan rapat, seperti biasanya. Ternyata sesampainya di perpustakaan sudah berkumpul teman-teman pengurus Rohis, lengkap. posisi duduk mereka menyerupai posisi persidangan. Dan ternyata akulah sang tertuduh yang akan disidang. Ku ikuti saja perjalanan persidangan. Aku di tuduh telah melanggar peraturan ketat Rohis saat itu. Berpacaran. Masyaallah ketua Rohis pacaran!!!. Saat itu pacaran menjadi semacam hal yang paling diharamkan.
Seseorang yang dituduh menjadi pacarku pun hadir saat itu. Cantik, cerdas, solehah, plus anak orang kaya, namun ia menolak semua hal yang dtuduhkan kepadanya. Aku pun menyatakan hal yang sama didepan “persidangan” . Sidang berjalan hingga sore hari, dan di akhir persidangan terungkap bahwa justru sang penggagas persidangan sekaligus pemimpin sidang-lah yang memiliki perasaan terhadap seseorang yang dituduhkan menjadi kekasihku itu, ternyata ia cemburu kepadaku.
Bagaimana tidak, perempuan itu cantik, soleha, pintar, dan aku gagah, berwibawa, berkharisma, juara kelas, ketua Rohis pula. Siapa yang tidak cemburu jika kami bersatu dalam ikatan berpacaran. Kalau memang iya, maka kami memang pantas menyandang gelar pasangan “selebritis” paling top dan berada pada jajaran paling atas diantara “selebritis” yang lain di sekolah.
Dari hati terdalam, aku sebenarnya sangat menyimpan rasa dengan dirinya, namun aku tidak tahu bagaimana dengan dirinya. Berusaha sekuat tenaga kututupi semua rasa itu, sampai hampir sesak dada ini karenanya. Ingin kunyatakan perasaan cintaku padanya saat itu juga, namun sungguh aku malu kepadaNya. Berbagai pertanyaan memenuhi batinku. Siapkah engkau menikahinya, sementara engkau masih dibangku SMA? Akan kau nafkahi dengan apa dirinya dan anak-anakmu kelak, jika engkau hanya berbekal ijazah SMA? Karenanya sejak saat itu kubuat diriku sulit untuk jatuh cinta kepada lawan jenisku. Yang kutahu saat itu ia memang menjadi incaran semua “kumbang jantan” di sekolah. Namun ia mampu bertahan dengan selimut kasalihannya.
Begitulah aku, aku paling sulit jatuh cinta saat itu. Cinta kusamakan dengan kotoran kucing aroma cokelat. Karena kulihat orang yang berpacaran hampir semuanya menampakkan kemunafikan, berdusta, membohongi sekaligus menghabiskan uang orang tua. Saat itu jelek-jelek begini aku memang sudah berpenghasilan dari mengajar privat. Jadi aku tahu benar bagaimana sulitnya mencari nafkah.
Cintaku hanya kuberikan padaNya Yang Satu. Yang kekal cintaNya, yang tiada pernah terputus, yang sangat tulus mencintai hambanya. Namun jujur, iri juga rasanya melihat teman-teman yang lain bersama dengan pasangannya, walaupun statusnya berpacaran. Ada yang memperhatikan disaat sakit, berbagi di saat sempit, siap menjemput dimanapun kapanpun, rela memberikan apa saja demi yang tercinta, dan hal-hal indah lainnya.
Namun selalu saja ku bantah hal itu. Bukan kah ada cinta yang jauh lebih besar dari itu semua. Keluarga, Ayah, Ibu, dan adik-adik yang senantiasa memberikan kesejukkan. Ibu yang selalu siap menjadi tempat berbagi. Ayah yang selalu siap melindungi. Adik-adik yang siap memberikan hiburan gratis. Bukankah itu semua juga cinta bahkan lebih tulus, karena mereka tidak pernah meminta balasan dari kita. Tapi aku masih ingin merasakan bagaimana indahnya berpacaran.
***
Ketika usiaku menginjak dua puluh tiga tahun, mulailah aku berpikir untuk membina keluarga. Kuliah sudah rampung walaupun baru S1. Pekerjaan sudah ada walaupun tidak permanen alias kontrak. Rumah juga sudah berdiri tegak, meskipun tiap bulan harus bayar uang kontrakan.
Namun satu hal yang selalu ku takuti. Can I falling in love? Teringat perempuan solehah yang satu sekolah denganku dulu. Ia cantik, cerdas, dan kaya raya. Mungkinkah ia saat ini telah berkeluarga? ataukah ia masih menungguku. Kuterbangkan do’a-do’aku ke dada langit tinggi, ku angkat tanganku tinggi-tinggi disetiap malam-malamku, ku keluarkan air mata semampuku, semua kulakukan untuk merayuNya. Hingga tiba saat dimana ia kabulkan semua do’aku.
November, 1995. Hari sangat cerah saat itu. Memang setiap akhir pekan selalu ku usahakan untuk datang ke rumah orang tuaku di selatan Jakarta. Malam sekitar pukul 8, terdengar telepon berdering. Ketika ku angkat, seakan-akan aku mendengar suara yang ku kenal namun sudah lama sekali rasanya. Tak kusangka ternyata itu dia. Ya, wanita yang dahulu pernah dituduhkan menjalin “hubungan tidak resmi” denganku di masa sekolah dulu. Ia meminta bantuanku untuk mencarikan seorang ikhwan yang siap menjadi pasangan hidup temannya.
Kutanyakan bagaimana kabarnya? Sudah berapa anak-anaknya? dan semua hal yang berkaitan dengan berkeluarga. Ternyata ia mengatakan bahwa ia belum dimiliki oleh siapa-siapa. Ingin terbang rasanya jiwaku memeluk Ia di Arsy, karena mengabulkan do’aku. Paling tidak belum ada yang meminang permaisuri hatiku.
Sebulan berlalu sejak telepon pertama itu. Saat ini temannya telah menemukan pasangan hidupnya, dan merencanakan akan menikah dibulan Juni,1996 nanti. Aku turut berbahagia mendengarnya, karena paling tidak aku sedikit banyak berkontribusi dalam hal itu. Februari, 1996, handphone-ku menerima panggilan dari nomor yang tidak kukenal. Kuterima panggilan itu, tak kusangka aku mendengar suaranya.
Kutanyakan kepadanya darimana ia tahu no hp-ku?. Ia menjawab bahwa terakhir menelpon pada saat meminta bantuan mencarikan seseorang untuk temannya itu aku memberikannya kepadanya. Wah, aku sudah mulai tua rupanya. Baru beberapa bulan saja aku sudah lupa. Kutanyakan apa keperluannya? Ternyata ia ingin bertukar pikiran denganku tentang menjalani kehidupan berkeluarga. Tak kusia-siakan kesempatan ini. Takkan kubiarkan ia lepas dariku untuk yang kedua kalinya. Kuutarakan niat suciku untuk meminangnya, ia pun setuju. Allahu akbar…Sungguh kasih sayangMu tiada pernah terputus untukku.
Kusampaikan keinginanku kepada kedua orang tuaku, dengan sedikit perjuangan ku luluhkan hati mereka. Sesungguhnya mereka ingin aku lebih lama lagi menikmati masa muda, berbakti dulu kepada mereka, namun kukatakan kepada mereka bahwa menikah adalah keinginan mulia, dan tidak akan terputus baktiku hanya karena menikah, bahkan justru dengan menikah kualitas baktiku akan semakin meningkat.
Berbagai pihak mulia ku temui, mulai dari guru spiritualku, guru spiritual calon istriku, para sahabat yang sudah lebih awal menegakkan setengah agamanya, sampai tiba saatnya bertemu dengan kedua orang tua dari calon istriku.
Jarak rumahnya dengan rumahku sekitar empat belas kilometer, kutempuh dalam waktu kurang dari satu jam, maklum sudah hampir sepuluh tahun aku mengendarai sepeda motor. Setibanya di rumah, aku disambut dengan senyuman ramah Ayah dan Ibunya serta seorang adik laki-lakinya yang masih berusia dua belas tahun. Ia memang hanya dua bersaudara, dan jarak usianya dengan adiknya sebelas tahun. Setelah dipersilahkan masuk dan duduk, Ayahnya menanyakan beberapa pertanyaan kepadaku. Mulai dari pertanyaan yang sifatnya basa-basi hingga yang serius tingkat tinggi.
Kenal dengan Vafiani dimana? Kapan? Lulus dari perguruan tinggi mana? Kerja dimana? Sampai pertanyaan sudah siap menempuh hidup berumah tangga?. Sedangkan sang Ibu hanya mengikuti alur pembicaraan saja.
Terkadang di tengah-tengah memotong dengan canda dan tawa. Kesan pertama, sungguh luar biasa keluarga ini. Ayahnya seorang Dirjen di Departemen Pertanian sekaligus ketua Masjid di lingkungannya. Ibunya seorang Guru Sekolah Dasar. Pantas saja jika kesolehan, akhlaqul karimah dan kecerdasan menjadi penghias diri Vafiani.
Ya, Vafiani Safitri nama permaisuri hatiku. Ia yang selama ini selalu kudambakan kini berada di hadapanku. Menungguku mengucapkan mitsaqan ghaliza. Sabtu pagi sembilan belas July 1997, pukul 09.00 WIB, di Masjid Baitussalaam, Pasar Minggu, kuucapkan sebuah perjanjian suci.
“Kuterima nikahnya dan kawinnya Vafiani Safitri binti Syam Ismail dengan mahar yang tersebut dibayar tunai.”
Setahun sudah berlalu, namun Allah SWT belum mengaruniakan keturunan kepada kami. Istriku mulai memaksakan diri untuk memeriksakan diri ke dokter, padahal aku lebih menyarankan untuk bersabar atas ujian ini.
Mungkin Allah SWT menilai kita belum siap jika di berikan titipan olehNya. Ummi memang pekerja keras, itu panggilan sayangku kepadanya. Ia seorang Apoteker, lulusan Farmasi, Universitas swasta bonafid di Jakarta Selatan. Hari-harinya dihabiskan di dalam laboratorium dan berhubungan dengan bahan-bahan kimia. Ternyata hal itu berakibat terhadap kesehatan reproduksinya. Namun tidak pernah berkurang sedikitpun rasa sayangku kepadanya, bahkan semakin hari semakin bertambah.
Hampir masuk di tengah tahun kedua pernikahan kami. Kondisi kesehatan ummi semakin menurun setiap hari. Tak kusangka permaisuri hatiku menderita berbagai penyakit aneh yang jarang ku dengar. System imune yang diserang penyakit ini, jenisnya pun sangat variatif, dan sangat jarang terjadi. Di antara 1.000.000 wanita dewasa kemungkinan kejadiannya hanya 1. Ia menyerang semua organ tubuh secara bergantian, mulai dari kulitnya yang sangat mudah memerah jika terkena sinar matahari langsung, uterus ummi, kemampuan melihatnya yang semakin menurun, persendiaan yang sering sakit, hingga jantungnya. Penyakit ini dikenal dengan istilah immune desease
Ku hulurkan sajadahku, kuhidupkan malam-malamku dengan qiyamullail panjang, kutengadahkan kedua tanganku memohon mukjizatNya, hingga tak terasa menetes air mata, mengalir deras seperti anak sungai yang baru saja hujan di hulunya. “Ya robbi, jika memang penyakit ini akan memisahkan kami di dunia, dan itu merupakan pilihan terbaik, maka sembuhkanlah ia walaupun aku harus berpisah dengannya, ringankan bebannya Ya Allah. Namun jika memang kehidupan kami berdua lebih baik jika bersama maka sehatkanlah kembali ia, agar ia mampu menjalani hari-harinya seperti semula, dan izinkan aku menjaga dan merawatnya hingga akhirnya wahai Zat yang Maha Agung.”
Selepas shalat-shalat fardhu dan sunnah, terus ku merayuNya. Di setiap waktu-waktu yang istijabah ku layangkan do’a-do’ku kepadaNya. Tak terhitung sudah jutaan tetes air mataku. Padahal saat ini aku tengah memiliki deadline ketat untuk menyelesaikan study S2, terbagi pikiranku untuknya dan studyku. Hilang sudah semangatku untuk menyelesaikan study ini. Namun di tengah keadaannya yang semakin memburuk, ia terus menyemangati diriku agar terus berjuang menyelesaikan studyku. “Abi harus menyelesaikan study S2 di ITB, abi gak usah terlalu memikirkan ummi ya sayang, ummi pasti sembuh, isyaallah… .” Begitu ia menyemangatiku.
Tak pernah kulihat senyuman ummi semanis hari itu, tatapan matanya menyiratkan cintanya yang tulus kepadaku, mulai dari pertemuan pertama hingga saat ini, baik dikala duka maupun suka. Ia panggil aku dengan panggilan kesayangan, lalu kudekatkan telingaku ke mulutnya.
“Abi…kalau ummi tidak bisa menemani Abi sampai tua nanti, Abi harus mencari pengganti ummi ya sayang…” Sepertinya hanya ini permintaannya yang tidak sanggup kupenuhi, tak terasa air mata ku menetes di pipinya. Ku lihat matanya pun berkaca-kaca. Namun ia memaksaku untuk berjanji di hadapannya. “Abi harus janji, kalau ummi pergi, Abi harus mencari penggantinya. ..pokoknya harus..” Aku hanya bisa menganggukkan kepala, tanda persetujuanku, walaupun hatiku berkata tak kan mampu merealisasikannya.
Malam, 31 Mei 1999, jam di dinding menunjukkan hampir pukul 11.00 WIB. Aku baru saja selesai berwudhu untuk mendirikan qiyamullail di sampingnya. Rumah Sakit sudah sangat sepi, yang terdengar hanya gemericik air di kolam tepat disamping ruangan tempat permaisuriku terbaring. Ia terbangun, membuka matanya secara perlahan dan memberikan senyuman hangat kepadaku. Ia memanggilku dan berkata, “Ummi rindu tilawah qur’an Abi….”. Langsung kubacakan surat Ar-Rahman, sebagai tanda kasih sayangku kepadanya, surat ini pula yang menjadi salah satu mahar permintaaan ummi dahulu. Entah mengapa setiap kubaca ayat fabiayyi aalaa irobbikumaa tukadzibaan, ada getaran yang berbeda, lain dari biasanya. Selesai kubacakan surat Ar-Rahman, kuperiksa denyut jantungnya, saat kupegang tangannya terasa sangat dingin dan berbeda, kutatap wajahnya yang tersenyum, dan aku tidak merasakan apa-apa selain dinginnya malam, tidak bisa kurasakan denyutnya. Inilah saat-saat dimana Allah membuktikan ayatNya “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah:9) .
Ku kecup keningnya dengan mesra untuk yang terakhir kali, kucoba untuk mengikhlaskan dirinya kembali kepada Sang Pemilik semesta. Walaupun tak berdaya ku bendung air mata.
Yaa robbi…terima kasih atas segala karuniaMu. Kau titipkan kepadaku seorang wanita solehah yang menjadi penyejuk pandanganku, yang selalu menyemangatiku di tengah-tengah kepenatan dunia, yang mampu memberikan keteduhan, cinta dan kasih sayang yang tulus, walaupun aku masih banyak memiliki kekurangan.
Ku antar permaisuriku ke peraduan terakhirnya, ia masih tetap cantik. Tiada yang tersisa selain cinta, ya…cintanya kepadaku tidak akan pernah pergi.
Dalam hidupku ini, hanya dua kali aku merasakan jatuh cinta. Pertama ketika aku jatuh cinta kepada Zat Yang Maha Mencintai, kedua ketika aku jatuh cinta kepada Vafiani Safitri binti Syam Ismail, permaisuri hatiku…..mungkink ah aku akan jatuh cinta untuk yang ketiga kalinya???
Ku selesaikan study S2 dengan cumlaude, kulanjutkan study sampai gelar tertinggi, Phd. Ku sibukkan diriku dengan berbagai macam kegiatan, mengajar lepas di Universitas, membimbing penelitian mahasiswa, melakukan penelitian mandiri, menjadi pembicara di berbagai seminar, baik yang bersifat ilmiah maupun lainnya. Namun setiap tiba dirumah, selalu saja aku teringat akan dirinya. Walaupun sudah 8 tahun ia pergi meninggalkanku sendiri, disini.
Pernah seorang teman menawarkan kepadaku seorang wanita, namun ia tidak berdaya menghadapiku. Sepertinya aku kembali sulit untuk jatuh cinta, mampukah aku mengabulkan permintaan terakhir permaisuriku?
Yaa robbi izinkan hamba jatuh cinta lagi…..I’ll faling in love again..!
***
bersambung.. …
wayah aku ngajar basa jawa
June 9, 2008 at 10:10 am | In 1 | No CommentsHari ini adalah hari mengajarku di kelas Abu Bakar. Aku sangat perduli sekali dengan persiapanku, karena yang aku ajar adalah pelajaran yang tidak disukai mereka. Pernah aku berfikir mengapa mereka begitu tidak suka dengan bahasa jawa !
Ternyata setelah akau Tanya mereka jawabannya polos………Lha Wong Ustadzah Itu Kan Ustadzahnya Umar, aku Tidak Suka!”
EALAH, NAK ! ……………..
Alhamdulillah setelah melalui berbagai proses pendekatan dan penjelasan dariku dan dari ustadzahnya, us Eva, mereka mereda juga,…………………………………………………..Hingga sekarang !
Kini yang ada di pikiran mereka ketika aku masuk ke kelas mereka adalah GAME !
“Hari ini Ustadzah ngajar di Kelas Abu Bakar Ya ! Ada game lagi ya us !” kata mereka.
Mendengar pertanyaan seperti itu biasanya aku menjawab ya, diikuti sorak mereka yang langsung berebutan masuk kelas.
Tetapi terkadang juga karena terlalu cintanya dengan “Gubuk Ceria”, Aduuh ngajaknya susaaaaaah banget !
Kalo gitu biasannya aku iming-imingi dengan suatu benda yang buat mereka penasaran.
PASTI MANJUR ! He>>He…………………………….!
Hari ini mereka belajar tentang benda langit dalam bahsa jawa. Dari rumah sudah aku persiapkan semua ubo rampe dan segenap senjata pamungkas plus rahasiaku.
Dengan antusias, langsung menyambut worksheet yang aku berikan. Sampai-sampai yang jadi mascot Abu Bakar pun, bersemangat antri mengambil kertas warna.
“Aku dluan Us ! Ayo….Ayo antri !” katanya.
peluncuran roket di SD
June 9, 2008 at 10:03 am | In 1 | No CommentsPART 1
Walaupun bukan roket NASA yang hari ini akan diluncurkan, tapi roket air yang satu ini lebih Ruarrr biasa ! Sampai-sampai waktu peluncuran sempat buat aku dag-dig-dug juga.
Ceritanya berawal dari proyek akhir kelas 1 yaitu membuat “WATER ROKET”. Ide ini atas inisiatif ustad agus yang ingin mewujudkan membuat roket air. Karena sebelumnya rencana wali kelas 1 adalah pake per, jadi kalo pake air begono ? Yaa, agak gimana gitchu ! Coz ribet dan pasti ribet pada cara membuat peluncurnya.
Subhanallah, ada sukarelawan yang namanya pak Iwan yang membantu membuat peluncurnya.Beliau adalah suaminya bu iwan atawa ustadzah nunung esde.
Siang yang panas tidak menghalangi pak iwan datang ke SD. Langsung dengan semangat 45 Us Agus memberi sambutan n sharing tentang desain peluncur roket. Untungnya sebelumnya dah dapet contoh gambar dari browsing internet. Alhamdulillah, ya Allah ! Andaikan Kalo tidak dari internet, gimana za ? (harus cari wangsit dulu dunk).
Senja telah menghias INSAN KAMIL yang ceria, jadilah kami bersepakat deal buat peluncur besoknya.
PART 2
Huh…abis bantu anak-anak ngganti sirip roket, CAPEK !
Sambil bawa setumpuk buku penghubung aq hijrah ke kantor.
Apa yang kulihat ?
Subhanallah, Ternyata pak iwan udah separuh jadi buat peluncurnya. Asal tahu aja ! untuk membuat sebuah peluncur biayanya agak lumayan juga kalo untuk SD, apalagi cara membuatnya !
JAdi berfikir deh, ini proyek akhirnya mahasiswa atau anaka SD ya ? ^_^
Setelah mengantar anak-anak pulang, us Agus kemudian mengeluarkan maklumat berburu pompa motor. Gang Walisongo sudah kami masuki, Bukit Karang sudah didaki, hasilnya NIHIL !
Lho..Ayo Us ,Cari lagi ! Pinjemnya yang agak endhel gituloh, biar boleh dipinjam ! HAH…………………………..!
Alhamdulillah, yang namanya rejeki itu nggak akan jauh kemana, Eh ketemu ma ibunya tahlia ! Ya, setelah basa basi + acara kangen-kangenan, langsung si pompa tak incar n pamitan pulang.
Akhirnya datang juga !!!!” Us Agus.
Langsung dengan cekatan pak Iwan masang pompa, tidak ketinggalan us agus yang masang roket, kebetulan waktu itu ada zaky dan ivan muridku. Jadi ada petugas pengambil air juga neh !
Pompa 1 ..2………..3 …………………..WUSssssssss!
Subhanallah ternyata roketnya meluncur dengan tingginya !
Penasaran ingin mencoba, aku dan us eva pun ikut-ikutan basah kena semprotan air. Alhamdulillah luar biasa, Allahu Akbar !
TASBIHKU MENGALIR UNTUKMU
May 17, 2008 at 5:07 am | In cerita si anak sholih | 3 CommentsSubhanallah, sungguh besar kekuasaan allah yang ingin ditunjukkan padaku. Aku semakin sadar jika semua yang terjadi padaku adalah rencana besar allah yang dibuat hanya untukku. Karena allah yakin aku bisa menjadi pemenang di garis finish sementara nanti. Ya,…aku menamakannya garis finish sementara, karena masih banyak tujuan yang belum aku capai. Insyaallah dengan saling berbagi dan memberi motivasi, semua rencana allah dapat kuhadapi dengan SENYUM !
Ketika sore hari, dulu waktu aku ngajar masih naik sepeda, ketika aku pulang ngajar, aku sengaja memperpanjang rute perjalananku lewat bagian barat Tri Dharma. Kebetulan waktu itu aku punya rencana beli bolpoin. Setelah membeli bolpoin, ku kayuh sepedaku dengan perlahan, sambil menikmati keadaan di sepanjang perjalananku. Tiba tiba aku melihat ada suara denting lonceng orang jual es. Lho …itu kan ……Ah tapi nggak mungkin ! nggak mungkin dari dulu sampai sekarang hidupnya gak berubah juga, trus apa ya masih kuat seperti dulu lagi ?
Kukayuh sepedaku lebih cepat, hingga aku menemukan sumber suara yang aku cari.
Astaghfirullahaladziim !…………..Ternyata benar, dia adalah orang yang aku lihat berjualan es 21 tahun. Orangnya , loncengnya, toples tempat sirupnya, semua sama seperti ketika aku masih TK A. Dulu setiap hari ahad aku selalu bersama mbah tun, setiap pagi ketika aku diajak belanja ke pasar, aku melihat bapak yang membawa “degan “ dengan tergopoh-gopoh. Cara berjalannya agak timpang. Siangnya aku bersama mbahku yang lain, disana aku ikut mbah jualan es dhawet di jalan pemuda.
Setelah sholat dhuhur, aku langsung berlari ke tempat jualannya mbah.
Ketika aku duduk-duduk melihat ramainya jalan pemuda, aku melihat ada orang jualan es campur. Wah karena namanya anak kecil, aku tertarik sekali dengan alat puteran es punya bapak itu. Aku pengin mencoba memutarnya. Langsung dengan merengek, aku minta dibelikan, walaupun mbahku sendiri jualan es. Mungkin karena aku cucu pertama dari anak pertama jadi semua permintaanku dituruti. Tapi ada satu kata mbah yang sampai sekaranga aku ingat. “yat, ojo tuku es sembarangan, es iku ana seribu manise (pemanis buatan )!“
“ah Gak peduli aku !”
setelah diberi uang , dengan riangnya aku mendekati si bapak. Eh, ternyata si bapak galak juga..ketika si bapak mengambil isinya es campur, aku nyoba muter-muterin puteran esnya !.
“Hoi, Ndhuk, ojo digawe dolanan (hai nak jangan dipakai mainan)
Berhubung aku merasa ketakutan sekali, udah omongannya keras, matanya melotot lagi. Hingga sekarang aku masih mengingatnya !
Kini si bapak telah berubah menjadi mbah yang sudah renta, dengan rombong yang sudah renta pula. Lalu ku beli es yang ia jual. Ternyata es yang ia jual tidak seperti dulu lagi, lengkap dengan gorengannya. Yang ia jual hanya es degan saja.
Laailahaillallah !….
Aku juga tidak tahu mengapa dia seperti itu ! sedih juga melihatnya !
Ternyata allah mempertemukanku dengan beliau untuk kedua kalinya. Sepulang aku dari sekolah lewat ronggolawe,dari kejauhan aku melihat rombong itu lagi!
Lho !….
Cepat-cepat kupakai kacamataku untuk meastikan apakah itu mbah yang dulu atau bukan!
Laailahaillallah, ternyata beliau lagi ! Di sampingnya ada anak perempuan seusia adikku kelas 5. mungkin dia cucunya.
Jadi serba salah aku, mau beli es tapi aku dan orang rumah lagi batuk, mau ngasih sesuatu tapi gimanaaa gitu !
Ketika aku berpapasan, adikku melihat dia sangat lelah sekali, setelah terlewa dari langkahku beberapa langkah aku mendengar perkataanya pada anak gadis itu.
“Nduk, mben nek aku gak dodolan es, iki piye yo nduk ?”
Ya Allah, sungguh besar rencana dan kehendakmu pada setiap makhlukmu,
Sehingga aku seolah tidak mampu menjangkau dan menerimanya secara logika
Aku tidak tahu rencanamu yang kau tentukan pada makhlukmu ini.
Aku hanya yati kecil yang mencoba bersyukur atas semua yang kau berikan untukku, berikhtiar dengan segala cita-citaku, dan memohon atas ampunan dosaku,… padamu !
Astaghfirullahaladziiim , Terima kasih ALLAh !
Tiada yang dapat aku lakukan, atas semua yang kau berikan padaku. Orang tua yang selalu menyayangiku, kelima adikku yang selalu menjadi ice breaking bagiku, dan teman-temanku………!
Mereka yang selalu memberiku motivasi dan selalu membuatku tertawa, dan yang paling special, mereka adalah teman, guru spiritual, ustadtad ustadzah ku SD, yang selalu membuat aku termotivasi untuk menjadi fighter girl, melakukan yang terbaik setiap hari dan menjadikanku seorang ustadzah disini.
Aku jadi teringat kata-kata bijak yang selalu menjadi motivasi hidupku
Surat Ar raad :
Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya.
Namun dari segala usahaku, hanya engkaulah dzat yang dapat mengabulkan doaku.
SUBHANALLAH..SUBHANALLAH…SUBHANALLAH…Itulah, yang akan selalu aku ucapkan untukmu !
MINI ZOO UNIK DARI BOTOL BEKAS ROKET
April 5, 2008 at 5:49 pm | In cerita si anak sholih | No Comments Subhanallah, ternyata antusia mereka ketika membuat roket masih membara,.
Walaupun sekarang sudah selesai presentasi dan peluncuran, ternyata semangat mereka mengilhami untuk menciptakan karya baru yang lebih menakjubkan.
Ternyata, bekas potongan botol coca-cola yang masih disimpan di kelas, mereka gunakan menjadi benda yang bermanfaat.
Dari potongan botol-botol itu ternyata mereka jadikan sebagai mini zoo!
Wah..wah !
Pagi-pagi tepatnya hari senin ketika aku baru sampai di sekolah, mereka langsung salim dan bilang sesuatu padaku.
“Us..Us ….liat deh..! Aku mengumpulkan binatang buanyak ! He…he…..”Ungkap mereka dengan wajah penuh semangat
Hah?….Di pikiranku , mereka pasti memasukkan dan melepaskan binatang-binatang itu ke dalam kelas dengan bebasnya. Waduh bisa-bisa jadi kebun binatang nih kelasku!!
Jangan-jangan mereka tambah termotivasi ngumpulin binatang lebih banyak lagi !!!!!
Waduuuh!!!!!!…………….
“lho, kak binatangnya dimasukkan ke tempat yang ditutup lho ya ! Nanti kalau ada temannya yang ketakutan gak mau masuk kelas gimana ?” Kataku
Lho nggak usah us…..! Wis to us pokoknya kita taruh di tempat bagus, bertumpuk-tumpuk !”Kata ivan dan lintang
Seperti apa ya kak ?”Tanyaku
Langsung dengan berlari kencang, ivan dan lintang kembali dengan menunjukkan sesuatu padaku.
Subhanallah , ternyata botol yang kemarin belum jelas kegunaanya, ternyata mereka jadikan kandang hewan. Potongan botol mereka tumpuk-tumpuk kemudian diisi dengan capung, bermacam jenis belalang dan kaki seribu.
“Hebat sekali ! .wah ini bisa jadi mini zoo beneran kak !”
Ya, us nanti kalau aku istirahat tak cari lagi biar tumpukannya tambah tinggi !” Berkata sambil mengerjakan worksheet dengan penuh semangat.
Waduuh , gimana nih..piye iki ! :>
Ternyata botol tadi belum diberi lubang udara sedikitpun oleh mereka.
Kak, coba liat deh, kalau botolnya seperti ini terus, binatangnya binatangnya bisa mati lemas lho !”Kataku
“Lha terus bagaimana us” mereka mulai berfikir sambil mengerutkan alisnya.
Coba kak, bagian tepinya kamu lubangi, gunanya agar ada sirkulasi udara kak !” Kataku sambil menunjukkan bagian yang tepat untuk dilubangi.
Oooo………! Lha itu berarti kita buat rumah sehat buat binatang ya ust ? “
Yup, benar !Kalau rumahnya g’ nyaman pasti yang di dalamnya g’ kerasan juga kak, kalau ada sirkulasi udaranya kak enak, Ya !
ternyata , luar biasa sekali antusias mereka pada sesuatu hal yang baru, apalagi kalau hal tersebut didukung dengan kondisi alam dan lingkungan orang yang memfasilitasi mereka untuk belajar tentang sains lebih banyak lagi. pasti akan menjadi pengalaman yang luar biasa, bermakna dan menyenangkan,tanpa mereka merasa terbebani. insyaallah !
?
March 24, 2008 at 9:27 am | In cerita si anak sholih | 3 CommentsADA YANG DATANG DAN PERGI
SIANG YANG PANAS DISINI
SEOLAH MEMBUAT HATI TERASA KEBAL DENGAN APA YANG TERJADI
SEMUANYA!
HINGGA AKU TIDAK TAHU PASTI
SIAPA YANG AKAN DATANG DAN SIAPA YANG AKAN PERGI LAGI
DIA,,KAMU?
ATAU AKU SENDIRI ?
kelasku tertimbun rambutan
March 24, 2008 at 9:18 am | In cerita si anak sholih | No CommentsCerita ini berawal dari ekspresi mereka yang histeris ketika anak ikannya di aquarium beranak. Ada salah satua anak yang punya ide kalau ada syukuran peringatan hari kelahiran si ikan. Eh ! kebetulan ada ide yang lewat! kelihatannya waktu belajar materi adab makan, mereka belum diajarkan adab makan ketika syukuran! alhamdulillah Di sekolah mereka sudah mempraktekkan adab makan, setiap hari mereka makan siang di sekolah. Jadi otomatis ada asatid yang bisa ngecek perilaku mereka. Tapi kalau yang satu ini kan belum! ya jadilah acara “SYUKURAN KELAS UMAR”.
Acara yang direncarakan sederhana sekali! maksudku ya yang penting esensinya saja! jadi besoknya mereka ditugaskan membawa rambutan atau snack.
Ternyata, ketika aku masuk kelasku, betapa terkejutnya aku. Mejaku seperti kios buah!
rambutan bertumpukan di mejaku. Ternyata mereka sangat antusias sekali dengan acara syukuran itu.
Setelah istirahat, langsung ustad fanani aku daulat buat memimpin acara! kelas sebelah juga ikut diundang lho !
Tapi ya tetap ada yang gak mau ikut, alasannya rame, yach tetep anak itu-itu wae! ora masalah !
ternyata adab makan waktu tasyakuran itu lain, lho !makanan yang ada di depan kita itu adalah rejeki kita, jadi kalau yang di depan kita itu ayam, ya itu rejeki kita ! Lho lha kalau yang di depan kita itu tempat cucian tangan atau tempat sampah lha gimana ustad? ^_^ he he !
lha ada caranya lagi dong, makanannya bisa digilir/ diputar! kan biasanya kalau syukuran membentuk lingkaran, jadi harus antri dan sabar !
Dengan sabar mereka mengambil satu persatu makanan yang sudah ditata di piring. Tidak ketinggalan juga satu bungkus kecil kacang yang sebetulnya agak terbatas untuk dibagikan. “Ayo, kacangnya ambil satu-satu!ojo royokan!” kata salah satu muridku.
belajar dari bentuk kaki seribu
March 18, 2008 at 9:33 am | In cerita si anak sholih | 2 CommentsKecintaan anak-anak di kelasku tentang binatang dan tumbuhan kelihatannya semakin besar ! setiap hari mereka selalu mengabarkan dan bertanya kepadaku tentang binatang baru yang mereka temukan setiap hari.Hari ini mereka kembali teringat akan janjiku bersama mereka, bahwa jika ada waktu kami akan belajar bersama tentang binatang baru yang mereka temukan. Tidak tahunya, pagi-pagi waktu aku datang sekolah, mereka langsung menunjukkan seekor kaki seribu yang telah mereka temukan kemarin. Ceritanya hewan tersebut lari setelah disimpan di kelas. mungkin mereka tidak ingin melepaskan kaki seribu mereka untuk kedua kalinya.
Setelah PAM-t bersama kelas lain, jam 8 tepat aku langsung ditarik masuk ke dalam kelas, dan tanpa komando langsung mengumpulkan teman yang lain untuk masuk kelas. Ayo us belajar kaki seribunya cepat dimulai!
yap, ok !
Eh …..ternyata si kaki seribu agak genit juga, yang tadinya dia diam, waktu dikeluarkan tubuhnya langsung digerakkan memanjang. Spontan saja yang tadinya anak-anak biasa-biasa saja langsung menjerit ketakutan. Ya agak geli juga sih ! tapi kalo aku juga takut khan gak lucu ! langsung aku tenangkan mereka dan mereka kembali mendekat dan memandangi si “thousand feet”. ternyata dari pengamatan sederhana mereka timbul banyak pertanyaan. mulai dari mengapa disebut kaki seribu sampai bahaya kaki seribu.
bahkan ada salah satu muridku yang bisa menjelaskan kalau kaki seribu punya senjata racun. ” hati-hati dia punya racun di bagian belakang badannya !”. trus waktu aku mau menjelaskan kalau harus hati-hati pada binatang bukannya tambah takut pada binatang, eh, malah aku yang mendapat penjelasan dari mereka ! kelihatannya hal tersebut dapat memotivasi mereka untuk lebih dapat mengenal sain dengan memanfaatkan lingkungan sekitar mereka, sambil bermain. Yaa… begitulah mereka, karena termotivasi untuk mempelajari binatang yang baru, setiap hari yang dilakukan mereka ketika istirahat adalah berburu belalang, kupu-kupu, kaki seribu,kupu-kupu sampai undur-undur. kata mereka undur-undur bisa dibuat obat & dijual.
Secara perlahan tapi pasti mereka akan lebih mencintai alam mereka, karena untuk tetap bisa mempelajari alam, hal utama yang harus dilakukan adalah menjaganya. n paling tidak aku bisa mengamalkan jurus biologyscience ku pada mereka. Biar tidak jadi katak dalam kresek, gitu loh ! hehe…..
Sampai-sampai temanku bilang kalau anak-anak dikelasku sukanya penelitian terus karena ustadzahnya orang sain, ya nggak juga lah…………….! Aku hanya memfasilitasi mereka untuk lebih suka aja, mungkin saja mereka ikut tertarik waktu aku mantengin binatang di akuarium kelasku, biasanya aku suka menjelaskan perilaku binatang tersebut !
just keeping in natural science !
Hello world!
March 5, 2008 at 7:31 am | In cerita si anak sholih | 1 CommentWelcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.


