Kisahku ini berawal ketika aku duduk di kelas 1 SMA di salah satu SMA favorit di Jakarta Selatan. Sebelumnya ingin kuperkenalkan diriku. Namaku Muhammad Fara, usiaku saat ini menginjak tiga puluh lima tahun, saat ini aku telah bekerja di kantor pemerintah sebagai pegawai negeri sipil. Gajiku lumayan besar, karena aku lulusan S3 dari Universitas terkenal di negeri ini. Ke luar negeri bukanlah hal yang luar biasa bagiku, karena hampir dua kali setiap bulan aku melakukannya.

Kira-kira dua puluh tahun yang lalu, ketika pertama kali ku injakkan kakiku di sekolah yang baru, bertemu dengan teman-teman baru, lingkungan yang semuanya serba baru. Maklum ketika itu aku masih lima belas tahun, terlalu muda rasanya untuk anak usia tersebut duduk di bangku kelas 1 SMA. Nilai di ijazahku rata-rata 9, NEM ku pun semuanya diatas 8,5. Boleh dibilang cukup berprestasi saat itu. Sehingga aku diterima di sekolah tersebut.

Saat pertama kali masuk sekolah, seperti biasa diadakan upacara penyambutan siswa baru. Saat itu aku bertemu seorang siswa baru juga yang sampai saat ini menjadi sahabat karibku, Nugroho namanya. Saat ini ia telah memiliki 3 orang anak yang lucu-lucu dan cerdas.

Hari-hari pertamaku di sekolah diisi dengan hal-hal yang memang biasa terjadi di sekolah. Belajar, diskusi, cerita, nongkrong di kantin, ngadu bola, sampai tawuran sudah pernah kurasakan. Bahkan pernah seorang teman membawa granat aktif ke sekolah, untuk digunakan saat tawuran nanti, dahsyat bukan?

Namun ada satu hal yang sampai saat ini selalu kupikirkan. Kenapa saat itu aku tidak menjalani kegiatan yang paling digemari oleh para pelajar, bahkan hingga saat ini pun masih menjadi primadona alur cerita di sinetron dalam negeri. PACARAN, ya pacaran. Kenapa ketika sekolah dahulu aku tidak menyempatkan diri untuk pacaran, untuk sekedar merasakan indahnya masa-masa SMA dengan seseorang yang istimewa di sampingku. Yang selalu menanyakan kesehatanku, yang selalu memperhatikanku, yang selalu menghubungiku tak kenal waktu, yang selalu meminta diantar kesana-kemari, yang mengerjakan PR-ku, yang memberikan bocoran soal ujian harian dan mingguan, yang senantiasa mengingat akan diriku dari fajar hingga bertemu fajar ke esokan harinya.

***

Tak terasa satu tahun sudah kulalui di sekolah ini. Tahun pertamaku kuhabiskan untuk bermain sepuasnya dengan teman-teman baruku. Namun ada satu hal yang tetap ku pertahankan. Nilai rapot ku selalu rata-rata 8. Rangkingku pun selalu 3 besar. Bahkan aku berhasil mencetak “hattrick” dengan mendapat rangking 2 berturut-turut selama di kelas 1.

Masuk di kelas 2 SMA, aku diperkenalkan dengan organisasi sekolah, Rohis namanya. Nugroho pun ku ajak bergabung di dalamnya. Entah angin apa yang membawa kami “terjerumus” masuk kesana. Rasanya tidak ada hal yang istimewa pada awalnya. Organisasi ini terlihat lebih ringan dibandingkan yang lain. Tidak ada formulir, tidak ada biaya pendaftaran, tidak ada iuran bulanan, kegiatannya pun tidak membuat kami bermandikan keringat. Bahkan yang paling menyenangkan bagi kami saat itu adalah, kegiatan ini paling banter berkutat di musholla sekolah, banyak makanan dan minumannya, plus gratis dan kakak-kakak perempuannya cantik-cantik, bahkan cenderung terlihat anggun dengan jilbab panjang yang mereka kenakan. Walaupun jujur saat itu aku agak heran kenapa mereka mau mengenakan jilbab sepanjang itu.

Berbagai macam kegiatan diperkenalkan kepadaku. Mulai dari peringatan Isra’ Mi’raj, Pesantren Kilat, Bakti Sosial, Bedah Buku, Bagi-bagi Sembako gratis, Ceramah umum, Kajian Tematik, Pemutaran Film, sampai jalan-jalan ke puncak. Ketika itu jalan-jalan ke puncak rasanya sudah jauh sekali. dan yang perlu di catat semuanya gratis, kalau pun diminta untuk membayar paling besar lima belas ribu rupiah. Bayangkan, lima belas ribu untuk jalan-jalan ke puncak selama tiga hari dua malam. Memang sih sebagian besar kegiatan bersifat rohani, namanya saja sudah Rohani Islam (kepanjangan dari Rohis). Namun dijamin tidak membosankan.

Tiba saat pergantian kepengurusan, aku dan Nugroho dicalonkan sebagai ketua. Masyaallah aku bisa apa saat itu. Bicara di depan umum saja aku gemetaran, keringat mengucur deras, kata-kata ku pun tersusun layaknya benang kusut. Sedikitpun kriteria pemimpin tidak ada padaku, kecuali satu, egocentris. Ya aku memang terkenal egois dan mau menang sendiri. Dan katanya pada saat-saat tertentu seorang pemimpin memang harus egois. Singkat cerita terpilihlah aku sebagai Ketua Rohis yang baru dan Nugroho sebagai wakilnya.

Hari-hari ku sebagai “pejabat tinggi” tidak seindah pejabat di gedung MPR/DPR, mereka dibayar mahal untuk pekerjaannya, sementara aku, uang transport saja tidak dapat. Perbedaan pendapat, debat kusir, air mata, sampai lempar kursi dan membanting pintu menjadi makanan sehari-hari.

Sepulang sekolah aku tidak pernah langsung pulang ke rumah, pasti ada saja agenda rapat. Dan biasanya rapat baru berakhir menjelang adzan maghrib, itupun rapat di pending hingga besok siang. Ada saja masalah baru yang kuhadapi setiap harinya. Mulai dari masalah internal kepengurusanku hingga fitnah-fitnah keji yang menerpa. Pernah suatu ketika aku di fitnah mengikuti aliran sesat karena setiap rapat ku bentangkan kain lebar dan panjang agar terpisah antara pengurus lelaki dan perempuan. Pernah pula aku di bilang homoseksual, karena setiap bertemu saudaraku yang lelaki selalu kucium pipi kiri dan kanannya, dan aku sangat enggan berhubungan dengan perempuan, bahkan cenderung menjauhi jenis mahluk yang satu ini.

Masih tergiang di telinga, bagaimana ketika itu guru spiritual ku mengatakan, “Jadilah pecinta sejati, yang tidak akan bermain-main dengan cintanya, yang tulus cintanya, yang menjauhi zina, karena Allah SWT memerintahkan kepada kita dalam firmannya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.(QS. Al-Isra:32). ” Jadilah pembaca buku sejati yang tidak akan membuka dan merusak sampul buku yang dipajang di toko-toko buku. Karena seorang pembaca sejati akan sampai tuntas membaca buku, bukan hanya merusak dan melihat sejenak kemudian di taruh, tidak jadi dibeli.” Buku yang tersampul merupakan perumpamaan untuk perempuan yang terjaga diri dan kehormatannya. Sementara pembaca sejati adalah perumpamaan pria sejati yang hendak meminang seorang wanita. Ia tidak ingin bermain-main dengan pilihannya, tidak akan menikmati sebelum saatnya dan merusak pilihannya. Kalimat itu menjadi kalimat pamungkas saat hatiku terasa mulai di-infiltrasi oleh “virus-virus merah jambu”

Sampai terjadilah peristiwa yang hingga saat ini menjadi bunga-bunga indah di dalam file memory hardisk-ku. Hari itu aku dipanggil dengan sepucuk surat agar datang ke perpustakaan sepulangnya dari sekolah. Tidak tercantum siapa pengirimnya. Hanya tertulis tebal kata “PENTING” di akhir surat. Ku pikir paling-paling undangan rapat, seperti biasanya. Ternyata sesampainya di perpustakaan sudah berkumpul teman-teman pengurus Rohis, lengkap. posisi duduk mereka menyerupai posisi persidangan. Dan ternyata akulah sang tertuduh yang akan disidang. Ku ikuti saja perjalanan persidangan. Aku di tuduh telah melanggar peraturan ketat Rohis saat itu. Berpacaran. Masyaallah ketua Rohis pacaran!!!. Saat itu pacaran menjadi semacam hal yang paling diharamkan.

Seseorang yang dituduh menjadi pacarku pun hadir saat itu. Cantik, cerdas, solehah, plus anak orang kaya, namun ia menolak semua hal yang dtuduhkan kepadanya. Aku pun menyatakan hal yang sama didepan “persidangan” . Sidang berjalan hingga sore hari, dan di akhir persidangan terungkap bahwa justru sang penggagas persidangan sekaligus pemimpin sidang-lah yang memiliki perasaan terhadap seseorang yang dituduhkan menjadi kekasihku itu, ternyata ia cemburu kepadaku.

Bagaimana tidak, perempuan itu cantik, soleha, pintar, dan aku gagah, berwibawa, berkharisma, juara kelas, ketua Rohis pula. Siapa yang tidak cemburu jika kami bersatu dalam ikatan berpacaran. Kalau memang iya, maka kami memang pantas menyandang gelar pasangan “selebritis” paling top dan berada pada jajaran paling atas diantara “selebritis” yang lain di sekolah.

Dari hati terdalam, aku sebenarnya sangat menyimpan rasa dengan dirinya, namun aku tidak tahu bagaimana dengan dirinya. Berusaha sekuat tenaga kututupi semua rasa itu, sampai hampir sesak dada ini karenanya. Ingin kunyatakan perasaan cintaku padanya saat itu juga, namun sungguh aku malu kepadaNya. Berbagai pertanyaan memenuhi batinku. Siapkah engkau menikahinya, sementara engkau masih dibangku SMA? Akan kau nafkahi dengan apa dirinya dan anak-anakmu kelak, jika engkau hanya berbekal ijazah SMA? Karenanya sejak saat itu kubuat diriku sulit untuk jatuh cinta kepada lawan jenisku. Yang kutahu saat itu ia memang menjadi incaran semua “kumbang jantan” di sekolah. Namun ia mampu bertahan dengan selimut kasalihannya.

Begitulah aku, aku paling sulit jatuh cinta saat itu. Cinta kusamakan dengan kotoran kucing aroma cokelat. Karena kulihat orang yang berpacaran hampir semuanya menampakkan kemunafikan, berdusta, membohongi sekaligus menghabiskan uang orang tua. Saat itu jelek-jelek begini aku memang sudah berpenghasilan dari mengajar privat. Jadi aku tahu benar bagaimana sulitnya mencari nafkah.

Cintaku hanya kuberikan padaNya Yang Satu. Yang kekal cintaNya, yang tiada pernah terputus, yang sangat tulus mencintai hambanya. Namun jujur, iri juga rasanya melihat teman-teman yang lain bersama dengan pasangannya, walaupun statusnya berpacaran. Ada yang memperhatikan disaat sakit, berbagi di saat sempit, siap menjemput dimanapun kapanpun, rela memberikan apa saja demi yang tercinta, dan hal-hal indah lainnya.

Namun selalu saja ku bantah hal itu. Bukan kah ada cinta yang jauh lebih besar dari itu semua. Keluarga, Ayah, Ibu, dan adik-adik yang senantiasa memberikan kesejukkan. Ibu yang selalu siap menjadi tempat berbagi. Ayah yang selalu siap melindungi. Adik-adik yang siap memberikan hiburan gratis. Bukankah itu semua juga cinta bahkan lebih tulus, karena mereka tidak pernah meminta balasan dari kita. Tapi aku masih ingin merasakan bagaimana indahnya berpacaran.

***

Ketika usiaku menginjak dua puluh tiga tahun, mulailah aku berpikir untuk membina keluarga. Kuliah sudah rampung walaupun baru S1. Pekerjaan sudah ada walaupun tidak permanen alias kontrak. Rumah juga sudah berdiri tegak, meskipun tiap bulan harus bayar uang kontrakan.

Namun satu hal yang selalu ku takuti. Can I falling in love? Teringat perempuan solehah yang satu sekolah denganku dulu. Ia cantik, cerdas, dan kaya raya. Mungkinkah ia saat ini telah berkeluarga? ataukah ia masih menungguku. Kuterbangkan do’a-do’aku ke dada langit tinggi, ku angkat tanganku tinggi-tinggi disetiap malam-malamku, ku keluarkan air mata semampuku, semua kulakukan untuk merayuNya. Hingga tiba saat dimana ia kabulkan semua do’aku.

November, 1995. Hari sangat cerah saat itu. Memang setiap akhir pekan selalu ku usahakan untuk datang ke rumah orang tuaku di selatan Jakarta. Malam sekitar pukul 8, terdengar telepon berdering. Ketika ku angkat, seakan-akan aku mendengar suara yang ku kenal namun sudah lama sekali rasanya. Tak kusangka ternyata itu dia. Ya, wanita yang dahulu pernah dituduhkan menjalin “hubungan tidak resmi” denganku di masa sekolah dulu. Ia meminta bantuanku untuk mencarikan seorang ikhwan yang siap menjadi pasangan hidup temannya.

Kutanyakan bagaimana kabarnya? Sudah berapa anak-anaknya? dan semua hal yang berkaitan dengan berkeluarga. Ternyata ia mengatakan bahwa ia belum dimiliki oleh siapa-siapa. Ingin terbang rasanya jiwaku memeluk Ia di Arsy, karena mengabulkan do’aku. Paling tidak belum ada yang meminang permaisuri hatiku.

Sebulan berlalu sejak telepon pertama itu. Saat ini temannya telah menemukan pasangan hidupnya, dan merencanakan akan menikah dibulan Juni,1996 nanti. Aku turut berbahagia mendengarnya, karena paling tidak aku sedikit banyak berkontribusi dalam hal itu. Februari, 1996, handphone-ku menerima panggilan dari nomor yang tidak kukenal. Kuterima panggilan itu, tak kusangka aku mendengar suaranya.

Kutanyakan kepadanya darimana ia tahu no hp-ku?. Ia menjawab bahwa terakhir menelpon pada saat meminta bantuan mencarikan seseorang untuk temannya itu aku memberikannya kepadanya. Wah, aku sudah mulai tua rupanya. Baru beberapa bulan saja aku sudah lupa. Kutanyakan apa keperluannya? Ternyata ia ingin bertukar pikiran denganku tentang menjalani kehidupan berkeluarga. Tak kusia-siakan kesempatan ini. Takkan kubiarkan ia lepas dariku untuk yang kedua kalinya. Kuutarakan niat suciku untuk meminangnya, ia pun setuju. Allahu akbar…Sungguh kasih sayangMu tiada pernah terputus untukku.

Kusampaikan keinginanku kepada kedua orang tuaku, dengan sedikit perjuangan ku luluhkan hati mereka. Sesungguhnya mereka ingin aku lebih lama lagi menikmati masa muda, berbakti dulu kepada mereka, namun kukatakan kepada mereka bahwa menikah adalah keinginan mulia, dan tidak akan terputus baktiku hanya karena menikah, bahkan justru dengan menikah kualitas baktiku akan semakin meningkat.

Berbagai pihak mulia ku temui, mulai dari guru spiritualku, guru spiritual calon istriku, para sahabat yang sudah lebih awal menegakkan setengah agamanya, sampai tiba saatnya bertemu dengan kedua orang tua dari calon istriku.

Jarak rumahnya dengan rumahku sekitar empat belas kilometer, kutempuh dalam waktu kurang dari satu jam, maklum sudah hampir sepuluh tahun aku mengendarai sepeda motor. Setibanya di rumah, aku disambut dengan senyuman ramah Ayah dan Ibunya serta seorang adik laki-lakinya yang masih berusia dua belas tahun. Ia memang hanya dua bersaudara, dan jarak usianya dengan adiknya sebelas tahun. Setelah dipersilahkan masuk dan duduk, Ayahnya menanyakan beberapa pertanyaan kepadaku. Mulai dari pertanyaan yang sifatnya basa-basi hingga yang serius tingkat tinggi.

Kenal dengan Vafiani dimana? Kapan? Lulus dari perguruan tinggi mana? Kerja dimana? Sampai pertanyaan sudah siap menempuh hidup berumah tangga?. Sedangkan sang Ibu hanya mengikuti alur pembicaraan saja.

Terkadang di tengah-tengah memotong dengan canda dan tawa. Kesan pertama, sungguh luar biasa keluarga ini. Ayahnya seorang Dirjen di Departemen Pertanian sekaligus ketua Masjid di lingkungannya. Ibunya seorang Guru Sekolah Dasar. Pantas saja jika kesolehan, akhlaqul karimah dan kecerdasan menjadi penghias diri Vafiani.

Ya, Vafiani Safitri nama permaisuri hatiku. Ia yang selama ini selalu kudambakan kini berada di hadapanku. Menungguku mengucapkan mitsaqan ghaliza. Sabtu pagi sembilan belas July 1997, pukul 09.00 WIB, di Masjid Baitussalaam, Pasar Minggu, kuucapkan sebuah perjanjian suci.

“Kuterima nikahnya dan kawinnya Vafiani Safitri binti Syam Ismail dengan mahar yang tersebut dibayar tunai.”

Setahun sudah berlalu, namun Allah SWT belum mengaruniakan keturunan kepada kami. Istriku mulai memaksakan diri untuk memeriksakan diri ke dokter, padahal aku lebih menyarankan untuk bersabar atas ujian ini.

Mungkin Allah SWT menilai kita belum siap jika di berikan titipan olehNya. Ummi memang pekerja keras, itu panggilan sayangku kepadanya. Ia seorang Apoteker, lulusan Farmasi, Universitas swasta bonafid di Jakarta Selatan. Hari-harinya dihabiskan di dalam laboratorium dan berhubungan dengan bahan-bahan kimia. Ternyata hal itu berakibat terhadap kesehatan reproduksinya. Namun tidak pernah berkurang sedikitpun rasa sayangku kepadanya, bahkan semakin hari semakin bertambah.

Hampir masuk di tengah tahun kedua pernikahan kami. Kondisi kesehatan ummi semakin menurun setiap hari. Tak kusangka permaisuri hatiku menderita berbagai penyakit aneh yang jarang ku dengar. System imune yang diserang penyakit ini, jenisnya pun sangat variatif, dan sangat jarang terjadi. Di antara 1.000.000 wanita dewasa kemungkinan kejadiannya hanya 1. Ia menyerang semua organ tubuh secara bergantian, mulai dari kulitnya yang sangat mudah memerah jika terkena sinar matahari langsung, uterus ummi, kemampuan melihatnya yang semakin menurun, persendiaan yang sering sakit, hingga jantungnya. Penyakit ini dikenal dengan istilah immune desease

Ku hulurkan sajadahku, kuhidupkan malam-malamku dengan qiyamullail panjang, kutengadahkan kedua tanganku memohon mukjizatNya, hingga tak terasa menetes air mata, mengalir deras seperti anak sungai yang baru saja hujan di hulunya. “Ya robbi, jika memang penyakit ini akan memisahkan kami di dunia, dan itu merupakan pilihan terbaik, maka sembuhkanlah ia walaupun aku harus berpisah dengannya, ringankan bebannya Ya Allah. Namun jika memang kehidupan kami berdua lebih baik jika bersama maka sehatkanlah kembali ia, agar ia mampu menjalani hari-harinya seperti semula, dan izinkan aku menjaga dan merawatnya hingga akhirnya wahai Zat yang Maha Agung.”

Selepas shalat-shalat fardhu dan sunnah, terus ku merayuNya. Di setiap waktu-waktu yang istijabah ku layangkan do’a-do’ku kepadaNya. Tak terhitung sudah jutaan tetes air mataku. Padahal saat ini aku tengah memiliki deadline ketat untuk menyelesaikan study S2, terbagi pikiranku untuknya dan studyku. Hilang sudah semangatku untuk menyelesaikan study ini. Namun di tengah keadaannya yang semakin memburuk, ia terus menyemangati diriku agar terus berjuang menyelesaikan studyku. “Abi harus menyelesaikan study S2 di ITB, abi gak usah terlalu memikirkan ummi ya sayang, ummi pasti sembuh, isyaallah… .” Begitu ia menyemangatiku.

Tak pernah kulihat senyuman ummi semanis hari itu, tatapan matanya menyiratkan cintanya yang tulus kepadaku, mulai dari pertemuan pertama hingga saat ini, baik dikala duka maupun suka. Ia panggil aku dengan panggilan kesayangan, lalu kudekatkan telingaku ke mulutnya.

“Abi…kalau ummi tidak bisa menemani Abi sampai tua nanti, Abi harus mencari pengganti ummi ya sayang…” Sepertinya hanya ini permintaannya yang tidak sanggup kupenuhi, tak terasa air mata ku menetes di pipinya. Ku lihat matanya pun berkaca-kaca. Namun ia memaksaku untuk berjanji di hadapannya. “Abi harus janji, kalau ummi pergi, Abi harus mencari penggantinya. ..pokoknya harus..” Aku hanya bisa menganggukkan kepala, tanda persetujuanku, walaupun hatiku berkata tak kan mampu merealisasikannya.

Malam, 31 Mei 1999, jam di dinding menunjukkan hampir pukul 11.00 WIB. Aku baru saja selesai berwudhu untuk mendirikan qiyamullail di sampingnya. Rumah Sakit sudah sangat sepi, yang terdengar hanya gemericik air di kolam tepat disamping ruangan tempat permaisuriku terbaring. Ia terbangun, membuka matanya secara perlahan dan memberikan senyuman hangat kepadaku. Ia memanggilku dan berkata, “Ummi rindu tilawah qur’an Abi….”. Langsung kubacakan surat Ar-Rahman, sebagai tanda kasih sayangku kepadanya, surat ini pula yang menjadi salah satu mahar permintaaan ummi dahulu. Entah mengapa setiap kubaca ayat fabiayyi aalaa irobbikumaa tukadzibaan, ada getaran yang berbeda, lain dari biasanya. Selesai kubacakan surat Ar-Rahman, kuperiksa denyut jantungnya, saat kupegang tangannya terasa sangat dingin dan berbeda, kutatap wajahnya yang tersenyum, dan aku tidak merasakan apa-apa selain dinginnya malam, tidak bisa kurasakan denyutnya. Inilah saat-saat dimana Allah membuktikan ayatNya “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah:9) .

Ku kecup keningnya dengan mesra untuk yang terakhir kali, kucoba untuk mengikhlaskan dirinya kembali kepada Sang Pemilik semesta. Walaupun tak berdaya ku bendung air mata.

Yaa robbi…terima kasih atas segala karuniaMu. Kau titipkan kepadaku seorang wanita solehah yang menjadi penyejuk pandanganku, yang selalu menyemangatiku di tengah-tengah kepenatan dunia, yang mampu memberikan keteduhan, cinta dan kasih sayang yang tulus, walaupun aku masih banyak memiliki kekurangan.

Ku antar permaisuriku ke peraduan terakhirnya, ia masih tetap cantik. Tiada yang tersisa selain cinta, ya…cintanya kepadaku tidak akan pernah pergi.

Dalam hidupku ini, hanya dua kali aku merasakan jatuh cinta. Pertama ketika aku jatuh cinta kepada Zat Yang Maha Mencintai, kedua ketika aku jatuh cinta kepada Vafiani Safitri binti Syam Ismail, permaisuri hatiku…..mungkink ah aku akan jatuh cinta untuk yang ketiga kalinya???

Ku selesaikan study S2 dengan cumlaude, kulanjutkan study sampai gelar tertinggi, Phd. Ku sibukkan diriku dengan berbagai macam kegiatan, mengajar lepas di Universitas, membimbing penelitian mahasiswa, melakukan penelitian mandiri, menjadi pembicara di berbagai seminar, baik yang bersifat ilmiah maupun lainnya. Namun setiap tiba dirumah, selalu saja aku teringat akan dirinya. Walaupun sudah 8 tahun ia pergi meninggalkanku sendiri, disini.

Pernah seorang teman menawarkan kepadaku seorang wanita, namun ia tidak berdaya menghadapiku. Sepertinya aku kembali sulit untuk jatuh cinta, mampukah aku mengabulkan permintaan terakhir permaisuriku?

Yaa robbi izinkan hamba jatuh cinta lagi…..I’ll faling in love again..!

***

bersambung.. …